Titik awal kebangkitan nasional itu ditandai dengan lahirnya organisasi pergerakan pertama, Boedi Oetomo, pada 20 Mei 1908.
Namun, tak banyak yang tahu bahwa embrio pergerakan nasional itu tumbuh dari sebuah sekolah kedokteran di Batavia (kini Jakarta), yang dikenal sebagai STOVIA.
Sekolah ini menjadi ruang lahirnya gagasan kebangsaan, tempat para pemuda pribumi merumuskan mimpi tentang kemerdekaan dan kesetaraan.
STOVIA, Sekolah Dokter Djawa di Batavia
School tot Opleiding van Inlandsche Artsen, disingkat STOVIA, adalah sekolah kedokteran untuk kaum pribumi yang didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda.
Sekolah ini dibuka resmi pada Maret 1902 di kawasan Weltevreden, distrik elite Batavia yang kini mencakup wilayah Senen, Monas, Harmoni, dan Sawah Besar. Gedungnya kini menjadi Museum Kebangkitan Nasional.
Sebelum resmi bernama STOVIA, sekolah ini telah melewati beberapa transformasi.
Bermula dari kursus juru kesehatan yang dibuka pada 2 Januari 1849 melalui Surat Keputusan Gubernemen No. 22, kursus tersebut meningkat menjadi Sekolah Dokter Djawa pada 5 Juni 1853.
Tujuannya saat itu sederhana: memenuhi kebutuhan tenaga medis untuk mengatasi berbagai wabah penyakit di Hindia Belanda.
Seiring waktu, kurikulum dan status sekolah terus berkembang. Tahun 1889, namanya berubah menjadi School tot Opleiding van Inlandsche Geneeskundigen. Lalu, pada 1898, ditetapkan nama resmi: STOVIA.
Tahun 1913, istilah "Inlandsche" (pribumi) diganti menjadi "Indische" (Hindia), karena sekolah ini mulai terbuka bagi keturunan Asia Timur dan Eropa yang lahir di Hindia Belanda.
Tujuan Tersembunyi, Dokter Murah untuk Koloni
Pendirian STOVIA tak lepas dari politik etis yang dijalankan Belanda pada akhir abad ke-19.
Pendidikan Barat mulai diterapkan di Indonesia sebagai bagian dari program "balas budi", namun hanya terbatas bagi kalangan elit pribumi—anak pegawai dan bangsawan.
Belanda menghadapi dilema besar: wabah kolera, malaria, dan cacar merebak di berbagai daerah, sementara jumlah dokter Belanda sangat terbatas dan mahal.
STOVIA menjadi solusi pragmatis—mencetak dokter pribumi yang kompeten namun bergaji murah.
Untuk menarik minat, STOVIA memberikan pendidikan gratis kepada murid-muridnya. Meski pada awalnya ditujukan untuk kepentingan kolonial, STOVIA justru menjadi tempat tumbuhnya kesadaran nasional.
Dari STOVIA ke Boedi Oetomo
Tahun 1907, seorang tokoh penting alumni STOVIA, Dr Wahidin Soedirohoesodo, kembali mengunjungi almamaternya.
Dalam pertemuan dengan para mahasiswa, ia menggulirkan gagasan untuk membentuk organisasi yang bisa mengangkat derajat bangsa melalui pendidikan dan kebudayaan.
Gagasan itu disambut oleh Soetomo, mahasiswa STOVIA, yang bersama rekan-rekannya mewujudkannya menjadi Boedi Oetomo.
Organisasi tersebut resmi dideklarasikan pada 20 Mei 1908 di gedung STOVIA, dan Soetomo terpilih sebagai ketuanya.
Nama Boedi Oetomo berasal dari bahasa Sanskerta: bodhi atau budhi, yang berarti akal, kesadaran, atau pikiran yang luhur.
Organisasi ini berfokus pada pendidikan, pengajaran, dan kebudayaan, serta membuka kesempatan tanpa memandang perbedaan keturunan, agama, atau jenis kelamin.
Peran Boedi Oetomo dalam Kebangkitan Nasional
Pada 3–5 Oktober 1908, Boedi Oetomo menggelar kongres pertamanya di Yogyakarta.
Dalam kongres itu, Raden Adipati Tirtokoesoemo diangkat sebagai presiden organisasi. Sejak saat itu, banyak kalangan elit dan pejabat kolonial yang bergabung, menjadikan Boedi Oetomo kekuatan moral dan intelektual baru dalam masyarakat.
Boedi Oetomo menjadi pelopor era pergerakan nasional, yang kemudian diikuti oleh organisasi lain seperti Sarekat Islam, Indische Partij, dan PNI.
Peran lulusan STOVIA tidak bisa diabaikan dalam fase ini.
Selain Soetomo dan Wahidin, nama-nama seperti Dr Cipto Mangunkusumo, Gunawan, dan Suraji juga tercatat sebagai tokoh penting dalam sejarah perlawanan terhadap kolonialisme.
STOVIA bukan hanya mencetak dokter, tetapi juga pemimpin dan pejuang bangsa. Meskipun didirikan demi kepentingan kolonial, sekolah ini justru menjadi tempat tumbuhnya benih-benih nasionalisme Indonesia.
Kini, STOVIA telah bertransformasi menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), salah satu lembaga pendidikan tertua dan ternama di Indonesia.
Gedung bersejarahnya pun dijaga sebagai Museum Kebangkitan Nasional, sebagai pengingat bahwa perjuangan kemerdekaan lahir dari ruang-ruang pendidikan.
SUMBER: KOMPAS.com (Penulis: Widya Lestari Ningsih, Achmad Nasrudin Yahya)
/sulawesi-selatan/read/2025/05/19/172453088/harkitnas-wabah-penyakit-di-zaman-kolonial-awal-lahirnya-stovia