KOMPAS.com - Belum usai dengan Covid-19 dan hepatitis akut misterius pada anak, kini dunia kembali dibuat was-was dengan merebaknya penyakit monkeypox atau cacar monyet di sejumlah negara dunia.
Sejauh ini, Indonesia belum mengonfirmasi adanya kasus cacar monyet di Tanah Air.
Namun, tidak ada salahnya jika kita menaruh waspada dan berhati-hati terhadap penyakit yang satu ini.
Berikut ini adalah hal-hal yang sudah diketahui tentang cacar monyet:
Dilansir dari , cacar monyet bukanlah sebuah penyakit yang baru ditemukan dan diketahui, karena penyakit ini sudah ada sejak lama dan menjadi endemik di sejumlah negara dunia.
Permasalahannya, kini cacar monyet ditemukan menyebar di banyak negara dunia yang bukan merupakan negara endemik dari penyakit itu.
Bahkan, pada kasus-kasus infeksi yang ditemukan saat ini, pasien tidak memiliki riwayat perjalanan ke negara-negara endemik.
Inilah mengapa para peneliti terus mendalami untuk mencari tahu bagaimana cara penyebaran virus penyebab cacar monyet yang satu ini.
Baca juga: Cacar Monyet Sudah Terdeteksi di Australia, Apa Saja Gejalanya?
Meski bernama cacar monyet namun Penyakit ini bukan berasal atau ditularkan oleh monyet.
Disebut monkeypox karena pertama kali ditemukan pada monyet di Afrika, tetapi reservoirnya ada pada hewan pengerat, khususnya hewan pengerat di Afrika Tengah dan Barat.
Cacar monyet dikatakan penyakit yang mirip dengan penyakit cacar yang terkait dengan Orthopoxvirus.
Gejalanya pun mirip, hanya saja cacar monyet dikatakan memiliki gejala yang lebih ringan.
Jadi sangat jarang pasien cacar monyet yang membutuhkan perawatan medis hingga ke rumah sakit.
Secara umum, cacar monyet dibedakan menjadi 2 strain: Congo Basin dan Afrika Barat. Strain Congo Basin cenderung lebih parah dibandingkan dengan strain Afrika Barat.
Baca juga: Gejala Monkeypox atau Penyakit Cacar Monyet Menurut WHO
Penyakit cacar monyet dimulai dengan gejala seperti flu, demam, tidak enak badan, dan pembengkakan kelenjar getah bening.